Showing posts with label Ibrah. Show all posts
Showing posts with label Ibrah. Show all posts

Monday, September 23, 2019

Proses Penciptaan Manusia dalam Al-Quran

Penciptaan Manusia dalam Al-Quran - Assalamualaikum, pada kali ini saya akan sharing bacaan dari salah satu karyailmiah yang membahas mengenai penciptaan manusia. Topik yang sangat menarik, untuk dibaca, dipelajari, supaya kita sebagai manusia tidak lupa diri dengan asal-usul kita, darimana berasal, dan untuk apa diciptakan. Berikutini penjelasan tentang Penciptaan Manusia dalam Al-Quran :

Proses Penciptaan Manusia dalam Al-Quran

Penciptaan Adam 'Alaihi Sallam dan Keturunannya

Dalam al-Qur'an, Allah Subẖānahu wa Ta'ālā menciptakan Adam 'Alaihi Sallam, untuk pertama kali dalam jenis manusia. Setelah itu, Allah ciptakan dari tulang sulbi Adam 'Alaihi Sallam istrinya. Dari keduanya, Adam dan istrinya, Allah perkembangbiakan manusia, laki-laki dan perempuan, hingga saat ini. Hal ini diterangkan dalam surat An-Nisā [3], ayat pertama.

Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.

Ibnu Jarir at-Thabari, Ibnu Katsir, dan lainnya menafsirkan kata min nafsi wāhidah yaitu Adam 'Alaihi salām, dan kata minhā zaujahā yaitu kemudian Allah jadikan dari Adam, istrinya, yaitu Hawa. Allah ciptakan Hawa dari salah satu tulang rusuk sebelah kiri bagian belakang Adam dan ketika itu Adam sedang tidur. (AtThobari, 1999)(Katsîr, 2002)(Al-Qurtuby, 2002) Sementara As-Sa'di menafsirkan minnafsi wāhidah yaitu dari diri yang satu dan minhā zaujahā yaitu dari padanya istrinya, agar sesuai dengannya, lalu ia merasa tenang kepadanya.(as- Sa’dî, 2002) Penafsiran mengenai Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam 'Alaihi sallam berdasarkan hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda:
Bersikaplah yang baik kepada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika kalian luruskan dengan keras, akan patah. Sebaliknya, jika kalian biarkan akan selalu  bengkok. Karena itu, bersikaplah yang baik kepada wanita. (Muslim, 1997)

Dari pemaparan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa konsep penciptaan manusia pertama dalam Islam adalah Adam 'Alaihi sallam lalu istrinya, Hawa, dan dilanjutkan dengan keturunannya, seluruh manusia yang hidup di muka bumi ini, baik yang telah meninggal maupun yang masih hidup saat ini. Selanjutnya, penulis akan memperinci pembahasan penciptaan manusia ini ke dalam empat tema, yaitu: permulaan penciptaan manusia, penciptaan manusia dari tanah, fase perkembangan
penciptaan Adam 'Alaihi sallam.(Bucaille, 2008)

Penciptaan Manusia Dari Tanah

Allah menerangkan bahwa penciptaan manusia ditampilkan di dalam al-Qur'an sebagai wujud yang amat erat berkaitan dengan tanah. Di mana Allah menegaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan akan dikembalikan pula ke tanah. Ada dua ayat yang akan kita bahas dalam hal ini, yaitu surat Thā Hā [20] ayat 55 dan surat Nuh [71] ayat 17-18.

ar-Rāzi menjelaskan makna Allah menumbuhkan kamu (manusia) dari tanah (Nuh [71] ayat 17) ke dalam dua pandangan, pertama, bahwa Allah menciptakan Bapak kalian, Adam 'Alaihi sallam, dari tanah sebagaimana dalam surat Ali Imran [3] ayat 59, Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah. Yang kedua bahwa Allah menumbuhkan manusia dari semua apa yang ada dalam tanah. hal ini, beliau jelaskan karena Allah memulai penciptaan manusia dari nutfah, yang ia merupakan sari pati dari makanan  Yang dimakan, yang di mana seluruh makanan yang dimakan itu bersumber dari tanah. (ar-Rāzi, 1981)

Dalam kitab Sunan Tirmidzi, terdapat sebuah hadis yang menjelaskan bagaimana Allah Subẖānahu wa Ta'ālā menciptakan Adam 'Alaihi sallam. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: 

Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam (tanah) yang Allah genggam dari semua penjuru bumi. Maka anak cucu Adam datang (tercipta) sesuai dengan kadar bumi. Di antara mereka ada yang tercipta dalam keadaan berkulit merah, putih, dan hitam, atau antara itu semua. Di antara mereka ada yanglembut, keras, buruk (perangainya), dan baik (perangainya).(Al-Albani, 2007)

Demikian pembahasan kita pada kali ini tentang  Penciptaan Manusia dalam Al-Quran yang dibahas dalam Al-Quran, semoga bermanfaat. Coretan Binder Hijau. Jangan lupa baca : Istilah Manusia di Dalam Al-Quran

Wednesday, June 15, 2016

Kultum Ramadhan : Persiapan Diri Menghadapi Puasa Ramadhan

Kultum Ramadhan menjadi suatu agenda yang spesial yang hanya dapat ditemukan dibulan barokah romadon. Di bulan ramadhan ini biasanya hampir setiap masjid sebelum atau sesudah menyelesaikan ibadah solat sunnah tarawih akan diadakan solat tarawih.

Bagi anda yang seorang muballigh yang tengah mencari materi dan contoh kultum yang akan dibawakan nanti tentu saja tidak cukup satu materi, karenanya Coretan Binder Hijau telah menyediakan beberapa materi, diantaranya yaitu :
dan pada kali ini CBH akan memberikan tema untuk ceramah singkat atau kuliah tujuh menit yang biasa disebut dengan kultum dengan judul : Persiapan Diri Menghadapi Puasa Ramadhan. Langsung saja berikut ini adalah materinya :


Kultum Ramadhan : Persiapan Diri Menghadapi Puasa Ramadhan 2016


Alangkah bahagianya kaum muslimin dengan kedatangan bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, bulan Al-Qur’an, bulan ampunan, bulan kasih sayang, bulan doa, bulan taubat, bulan kesabaran, dan bulan pembebasan dari api neraka. Bulan yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh segenap kaum muslimin.

Bulan yang sebelum kedatangannya Rasulullah Saw. berdoa kepada Allah: “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.” Bulan dimana orang-orang saleh dan para generasi salaf berdoa kepada Allah agar mereka disampaikan ke bulan Ramadhan enam bulan sebelum kedatangannya, Mualla bin al-Fadhl berkata: “Mereka (salaf) selama enam bulan berdoa kepada Allah supaya disampaikan ke bulan Ramadhan, dan berdoa enam bulan selanjutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.”

Kenapa mereka begitu bersungguh-sungguh memohon kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan? Mari kita dengarkan sabda Rasulullah Saw. ketika beliau memberi kabar para sahabatnya dengan kedatangan bulan Ramadhan: “Ketika datang malam pertama dari bulan Ramadhan seluruh setan dibelenggu, dan seluruh jin diikat. Semua pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satu pintu pun yang terbuka. Semua pintu sorga dibuka hingga tidak ada satu pun pintu yang tertutup. Lalu tiap malam datang seorang yang menyeru: “Wahai orang yang mencari kebaikan kemarilah; wahai orang yang mencari keburukan menyingkirlah. Hanya Allah lah yang bisa menyelamatkan dari api neraka”. (H.R.Tirmidzi).

Rasulullah Saw. juga bersabda: “Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah telah mewajibkan di dalamnya puasa. Pada bulan itu Allah membuka pintu langit, menutup pintu neraka, dan membelenggu setan-setan. Di dalamnya Allah memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang diharamkan kebaikan malam itu maka ia sungguh telah diharamkan (dari kebaikan).” (HR. Nasa’i dan Baihaki).

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali mengomentari hadits ini dengan perkataannya: “Hadits ini merupakan dasar dan dalil memberi ucapan selamat yang dilakukan kaum muslimin kepada muslimin lainnya dengan kedatangan bulan Ramadhan, bagaimana seorang mukmin tidak bergembira dengan dibukanya pintu sorga? Bagaimana seorang mukmin tidak bergembira dengan ditutupnya pintu neraka? Bagaimana orang yang berakal tidak bergembira dengan masa dimana setan-setan dibelenggu?” Hendaklah kita juga mencontoh para salaf dengan senantiasa berdoa kepada Allah agar disampaikan ke bulan Ramadhan yang penuh dengan berbagai macam keberkahan dan keutamaan tersebut.

Ramadhan adalah tamu istimewa. Adalah merupakan kewajiban bagi kita sebagai tuan rumah untuk menyambut kedatanganya dengan suka cita dan memuliakannya. Ramadhan adalah anugerah Allah yang luar biasa. Ramadhan adalah kesempatan untuk menyiapkan masa depan kita di dunia dan akhirat; oleh karenanya kita mesti mempersiapkan kehadirannya dengan persiapan yang paripurna agar kita bisa sukses meraih gelar takwa dan mendapat janji Allah yaitu ampunan dan bebas dari api neraka.

Apa saja perkara yang harus dipersiapkan menjelang kedatangan tamu tersebut?

1) Niat yang sungguh-sungguh

Ketika Ramadhan menjelang banyak orang berbondong-bondong pergi ke pasar dan supermarket untuk persiapan berpuasa. Mereka juga mempersiapkan dan merencanakan anggaran pengeluaran anggaran untuk bulan tersebut. Tetapi sedikit dari mereka yang mempersiapkan hati dan niat untuk Ramadhan. Puluhan kali Ramadhan menghampiri seorang muslim tanpa meninggalkan pengaruh positif pada dirinya seakan-akan ibadah Ramadhan hanya sekedar ritual belaka, ssekedar ajang untuk menggugurkan kewajiban tanpa menghayati dan meresapi esensi ibadah tersebut, jika Ramadhan berlalu ia kembali kepada kondisinya semula.

Tancapkanlah niat untuk menjadikan Ramadhan kali ini dan selanjutnya sebagai musim untuk menghasilkan berbagai macam kebaikan dan memetik pahala sebanyak-banyaknya. Anggaplah Ramadhan kali ini sebagai Ramadhan terakhir yang kita lalui karena kita tidak bisa menjamin kita akan bertemu Ramadhan di tahun-tahun berikutnya. Tanamkan tekad yang disertai dengan keikhlasan untuk konsisten dalam beramal saleh dan beribadah pada bulan Ramadhan ini. Ingat sabda Rasulullah Saw.: “Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan ikhlas maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”

2) Bertaubat dengan sungguh-sunguh.

“Setiap manusia adalah pendosa dan sebaik-baik pendosa adalah yang bertaubat” demikian sabda Rasulullah Saw. seperti yang diwartakan Ahmad dan Ibnu Majah.

Di antara karunia Allah adalah selalu mengulang-ulang kehadiran momen-momen kebaikan. Ada momen yang diulang setiap pekan, bulan, tahun dan lain-lain. Ramadhan adalah salah satu dari momen tersebut yang selalu datang setiap tahun. Ketika seorang hamba tenggelam dalam kelalaian karena harta benda, anak istri, dan perhiasan dunia lain yang membuat dia lupa kepada Rabbnya, terbius dengan godaan setan, dan terjatuh ke dalam berbagai macam bentuk maksiat datang bulan Ramadhan untuk mengingatkannya dari kelalaiannya, mengembalikannya kepada Rabbnya, dan mengajaknya kembali memperbaharui taubatnya. Ramadhan adalah bulan yang sangat layak untuk memperbarui taubat; karena di dalamnya dilipatgandakan kebaikan, dihapus dan diampuni dosa, dan diangkat derajat. 

Jika seorang hamba selalu dituntut untuk bertaubat setiap waktu, maka taubat pada bulan Ramadhan ini lebih dituntut lagi; karena Ramadhan adalah bulan mulia waktu dimana rahmat-rahmat Allah turun ke bumi. Mana para pendosa? Mana orang-orang yang melampaui batas? Mana orang-orang yang selalu bermaksiat kepada Allah siang malam? Mana orang-orang yang membalas nikmat Allah dengan maksiat, memerangi Allah di bumi-Nya, dan menentangnya dalam kekuasan-Nya? Segeralah bertaubat! Karena tak satu pun dari kita yang bersih dari dosa dan bebas dari maksiat. Pintu taubat selalu terbuka dan Allah senang dan gembira dengan taubat hambanya. Taubat yang sungguh-sungguh atau taubat nasuha adalah dengan meninggalkan maksiat yang dilakukan, menyesali apa yang telah dilakukan, dan berjanji untuk tidak kembali mengulangi maksiat tersebut, dan jika dosa yang dilakukannya berkaitan dengan hak orang lain hendaknya meminta maaf dan kerelaan dari orang tersebut.

3) Mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan puasa dan ibadah Ramadhan lain.

“Menuntut ilmu wajib setiap muslim” (HR. Ibnu Majah). Ilmu yang Rasulullah Saw. maksudkan dalam hadits ini adalah ilmu yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah yang Allah wajibkan kepada setiap hamba. Setiap muslim wajib mempelajari ilmu tersebut; karena sah atau tidaknya ibadah yang dilakukannya tergantung dengan pengetahuannya tersebut. Seorang yang ingin melakukan shalat wajib mengetahui syarat-syarat atau rukun-rukun atau hal-hal yang membatalkan shalat dan lain-lainya, agar shalatnya sesuai dengan tuntutan agama. Begitu juga bulan Ramadhan di bulan ini Allah mewajibkan kepada setiap muslim yang mampu untuk berpuasa. Maka sudah menjadi kewajiban setiap muslim untuk membekali dirinya dengan hal-hal yang berkaitan dengan syarat-syarat dan rukun-rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, hal-hal yang dimakruhkan dan dibolehkan dalam puasa, hal-hal yang membatalkan puasa dan lain-lain supaya puasa yang dilakukannya sesuai dengan tuntunan syariah dan perbuatannya tidak sia-sia. Di samping pengetahuan yang berkenaan dengan puasa, pengetahuan-pengetahuan lain yang berkaitan dengan Ramadhan juga perlu seperti anjuran-anjuran, prioritas-prioritas amal yang harus dilakukan dalam Ramadhan, dan lain-lain agar setiap muslim dapat mengoptimalkan bulan ini sebaik mungkin.

4) Persiapan fisik dan jasmani.
Menahan diri untuk tidak makan dan minum seharian penuh selama sebulan tentu memerlukan kekuatan fisik yang tidak sedikit, belum lagi kekuatan yang dibutuhkan untuk menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan shalat sunnah lainnya, ditambah kekuatan untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dan beri’tikaf selama sepuluh hari di akhir Ramadhan. Kesemua hal ini menuntut kita selalu dalam kondisi prima sehingga dapat memanfaatkan Ramadhan dengan optimal dan maksimal. 

Melakukan puasa sunnah pada sebelum Ramadhan adalah salah satu cara melatih diri untuk mempersiapkan dan membiasakan diri menghadapi Ramadhan. Oleh karenanya Rasulullah Saw. mencontohkan kepada umatnya bagaimana beliau memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban, sebagaimana yang diwartakan Aisyah: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah Saw. berpuasa selama sebulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa (sunah) lebih banyak dari bulan Sya’ban.” (Muttafaq Alaih)

Inilah diantara hal-hal yang mesti dipersiapkan untuk menyambut datangnya bulan kesabaran ini.
Amalan-amalan sunah pada bulan Ramadhan:

Selain puasa yang Allah wajibkan pada bulan Ramadhan ada berbagai amalan yang disunahkan pada bulan ini di antaranya:

1. Mengkhatamkan Al-Qur’an
Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Quran. Pada bulan inilah Al-Qur’an pertama kali turun dari lauhul mahfuz ke langit dunia sekaliagus. Allah berfirman:

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)(al baqarah: 185)

Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus.”

Hadist tersebut menganjurkan kepada setiap muslim agar bertadarus al-Quran, dan berkumpul dalam majlis al-Quran dalam bulan Ramadhan. Membaca dan belajar al-Qur’an bisa dilakukan di dihadapan orang yang lebih mengerti atau lebih hafal al-Quran. Dianjurkan pula untuk memperbanyak membaca al-Quran di malam hari.

Dalam hadist di atas, mudarosah antara Nabi Muhammad saw dan Malaikat Jibril terjadi pada malam hari, karena malam tidak terganggu oleh pekerjaan-pekerjaan keseharian. Di malam hari, hati seseorang juga lebih mudah meresapi dan merenungi amalan dan ibadah yang dilakukannya.

2. Shalat tarawih

Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Shalat tarawih atau qiyam Ramadhan tidak ada batasannya. Sebagian orang mengira shalat tarawih tidak boleh kurang dari 20 rakaat, sebagian lain mengira tidak boleh lebih dari 11 atau 13 rakaat. Ini adalah pendapat keliru yang menyalahi dalil. Hadits-hadits menunjukkan bahwa shalat malam adalah perkara yang luas, tidak ada batasan yang tidak boleh dilanggar. Bahkan ada riwayat yang jelas mengatakan bahwa nabi Saw. pernah shalat 11 rakaat, terkadang 13 rakaat atau kurang dari itu. Ketika ditanya tentang shalat malam beliau bersabda: “Dua rakaat dua rakaat, jika seseorang diantara kalian khawatir masuk waktu subuh hendaklah shalat satu rakaat witir.”

3. Memperbanyak doa

Orang yang berpuasa ketika berbuka adalah salah satu orang yang doanya mustajab. Oleh karenanya perbanyaklah berdoa ketika sedang berpuasa terlebih lagi ketika berbuka. Berdoalah untuk kebaikan diri kita, keluarga, bangsa, dan saudara-saudara kita sesama muslim di belahan dunia.

4. Memberi buka puasa (tafthir shaim)
Hendaknya berusaha untuk selalu memberikan ifthar (berbuka) bagi mereka yang berpuasa walaupun hanya seteguk air ataupun sebutir korma sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi:” Barang siapa yang memberi ifthar (untuk berbuka) orang-orang yang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”. (Bukhari Muslim)

5. Bersedekah

Rasulullah Saw. bersabda: “Sebaik-baik sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan” (HR. Tirmizi).

Ibnu Abbas RA berkata; “Nabi (Muhammad SAW) adalah orang yang paling dermawan diantara manusia. Kedermawanannya meningkat saat malaikat Jibril menemuinya setiap malam hingga berakhirnya bulan Ramadhan, lalu Nabi membacakan al-Quran dihadapan Jibril. Pada saat itu kedermawanan Nabi melebihi angin yang berhembus.“

Dan pada akhir bulan Ramadhan Allah mewajibkan kepada setiap muslim untuk mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurna puasa yang dilakukannya.

6. I’tikaf
I’tikaf adalah berdiam diri di masjid untuk beribadah kepada Allah. I’tikaf disunahkan bagi laki-laki dan perempuan; karena Rasulullah Saw. selalu beri’tikaf terutama pada sepuluh malam terakhir dan para istrinya juga ikut I’tikaf bersamanya. Dan hendaknya orang yang melaksanakan I’tikaf memperbanyak zikir, istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, shalat sunnah dan lain-lain.

Umroh
Ramadhan adalah waktu terbaik untuk melaksanakan umrah, karena umroh pada bulan Ramadhan memiliki pahala seperti pahala haji bahkan pahala haji bersama Rasulullah Saw. Beliau bersabda: “Umroh pada bulan Ramadhan seperti haji bersamaku.”

Memperbanyak berbuat kebaikan
Bulan Ramadhan adalah peluang emas bagi setiap muslim untuk menambah ‘rekening’ pahalanya di sisi Allah. Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Baihaki dikatakan bahwa amalan sunnah pada bulan Ramadhan bernilai seperti amalan wajib dan amalan wajib senilai 70 amalan wajib di luar Ramadhan. Raihlah setiap peluang untuk berbuat kebaikan sekecil apapun meskipun hanya ‘sekedar’ tersenyum di depan orang lain. Ciptakanlah kreasi dan inovasi dalam berbuat kebaikan agar saldo kebaikan kita terus bertambah.“dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.”

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa memanfaatkan momentum Ramadhan untuk merealisasikan ketakwaan diri kita dan bisa meraih predikat “bebas dari neraka.” Amin

Saturday, April 30, 2016

Hikmah Zakat : Cara Rasulullah Hormati Orang Miskin

Hikmah Zakat | Zakat merupakan kewajiban bagi umat muslim. Begitu pentingnya zakat. dan banyak sekali hikmah atau ibhrah yang dapat kita ambil melalui zakat ini. Beberapa hikmah yang dapat kita ambil yaitu saling berbagai kepada mereka yang tidak mampu.

Sahabat, baca juga :
Hadits Tentang Zakat Fitrah Beserta Artinya

Begitu juga dengan kisah ini. Kisah yang menceritakan bagaimana cara Rasulullah Hormati Orang Miskin.

Hikmah Zakat : Cara Rasulullah Hormati Orang Miskin

Cara Rasulullah Hormati Orang Miskin

Rasa cinta mendalam kepada Nabi Muhammad SAW juga dimiliki seorang budak perempuan bernama Barirah. Perempuan miskin ini berharap sekali Rasulullah dapat berkunjung ke gubuknya. Belum ada keberanian untuk mengundang karena di rumah reyot itu memang tak tersedia apa-apa.

Suatu saat Barirah menerima makanan cukup mewah dari salah seorang sahabatnya. Makanan lezat semacam ini belum pernah ia nikmati seumur hidup. Sebelum mencicipi, tiba-tiba batinnya melintaskan sesuatu: Selagi ada, sebaiknya makanan ini disuguhkan untuk orang istimewa yang selama ini ia rindukan, Rasulullah SAW.

Begitu diundang, Rasulullah pun datang bersama para sahabatnya. Sahabat Nabi yang menyaksikan hidangan enak dan mahal itu tiba-tiba berpikir, budak perempuan ini tak mungkin membelinya sendiri.

“Wahai Rasulullah bisa jadi ini makanan zakat atau sedekah. Sedangkan engkau tidak boleh memakan zakat dan sedekah. Jadi Engkau jangan memakannya, ya Rasulullah,” kata sahabat.

Kecintaan Barirah yang menggebu membuatnya lupa bahwa Rasulullah tak menerima zakat dan shadaqah. Mendengar ucapan sahabat tersebut, hati Barirah seolah meledak. Perasaan takut, gelisah, malu, dan sedih kini merusak kegembiraannya. Menyajikan hidangan yang diharamkan bagi Rasulullah adalah kesalahan fatal.

Dalam kondisi ini, Rasulullah menampilkan kemuliannya. Dengan lembut dan bijak beliau berucap, “Makanan ini memang sedekah untuk Barirah, dan karenanya sudah menjadi milik Barirah. Lalu Barirah menghadiahkannya kepadaku. Maka aku boleh memakannya.”

Kemudian Rasulullah SAW pun memakannya tanpa segan. 

Hikmah Zakat

↓↓↓

Demikian Cara Rasulullah Hormati Orang Miskin. Semoga saja dengan cerita diatas dapat membuat kita lebih mengerti mengenai betapa pentingnya zakat itu.

Berbagi kepada mereka yang kurang mampu, mungkin yang kita bagikan adalah hal kecil, namun sangat berarti bagi mereka.

Bagikan artikel ini untuk membagikan manfaat didalam  Cara Rasulullah Hormati Orang Miskin.

#Ibrah : Ketegasan Abu Bakar Soal Zakat

Assalamualaikum, kali ini coretan binder hijau ingin mengajak sahabat untuk mengambil hikmah ataupun ibrah dari salah satu sosok sahabat sekaligus salah satu Khalifah yakni Abu Bakar R.a mengenai ketegasan beliau dalam pelihal zakat.  Semoga dengan postingan ini kita semua menjadi Umat Islam yang mengerti betapa pentingnya zakat ini.

Ibrah : Ketegasan Abu Bakar Soal Zakat

#Ibrah : Ketegasan Abu Bakar Soal Zakat

Sewaktu Sahabat Abu Bakar menjadi khalifah menggantikan Rasulullah SAW, maka ia adalah seorang yang sangat tegas dalam menarik zakat kepada para saudagar dan orang-orang kaya yang telah memiliki banyak kelebihan harta.

Khalifah Abu bakar tercatat senantiasa bertindak tegas kepada siapa pun yang membangkang membayar zakat. Pada zaman itu, negara bertindak sebagai satu-satunya pihak yang berhak mendistribusikan dana zakat yang diperoleh dari para penyetor zakat. Pada waktu itu belum tersedia jasa swasta untuk menyalurkan zakat. Karenanya, jika tidak dibagikan sendiri secara langsung kepada orang-orang yang berhak, tentu negara lah yang akan mengambil alih pengelolaannya.

Sahabat Abu Bakar RA selalu bertintak sesuai prosedur yang telah disepakati oleh nagara, pertama-tama dikirimkanlah surat kepada setiap gubernur yang membawahi daerah-daerah kekuasaan Islam untuk menyiapkan perangkat-perangkat penarik zakat. Mulai dari personil, perlengkapan hingga patung hukum yang dapat membantu pelaksanaan penarikan zakat tersebut.

Dalam surat-suratnya tersebut, Abu Bakar menyatakan bahwa zakat adalah ibadah wajib (fardhu) yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW kepada kaum muslimin yang telah memenuhi kualifikasi.

Termasuk surat-surat Abu Bakar selalu menyebut bahwa zakat harus diberikan menurut kadar kebutuhan seseorang. Abu Bakar melarang keras untuk memberikan zakat melebihi ketentuan semestinya. Ia melarang setiap amil zakat untuk memberikan jatah zakat diluar ketentuan, meskipun mereka memintta lebih. (HR. Ahmad, Nasa’i, Abu Daud, Al-Bukhari dan ad-Daraquthni)

Ketika sepeningal Rasulullah ternyata orang-orang Arab, kembali menolak membayar zakat, maka Abu Bakar segera berunding dengan sahabat Umar RA. Tentang tindakan apa yang harus mereka ambil terhadap para pembangkang tersebut. Apakah mereka dapat diperangi karena menolak membayar zakat?

Karena dimintai pendapat oleh Khalifah, maka Umar pun angkat bicara, “Demi Allah, tiada lain yang aku lihat selain Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka aku pun tahu bahwa Abu Bakar berada pada posisi yang benar.” (HR. Abu Daud, shahih)

↓↓↓

Demikian artikel mengenai  Ketegasan Abu Bakar Soal Zakat, semoga saja bisa kita ambil pelajaran untuk terus mengembangkan pengetahuan kita mengenai Islam. Khusunya dalam hal zakat. Jangan lupa bagikan artikel ini untuk membagikan manfaat kepad yang lain..

Materi Ceramah Kultum Ramadhan : Semangat Mengenal Allah di Bulan Ramadhan

Materi Ceramah Kultum Ramadhan | Bismillahirrahmanirrahim, pada saat Coretan Binder Hijau mempublikasikan postingan ini masih berada di bulan sya'ban. Namun gema dan rasa bahagia atas kedatangan bulan Ramadhan sudah saya rasakan, mungkin itu juga terjadi kepada sahabat sekalian. Terbukti, sahabat dengan antusias menyambut bulan yang penuh berkah ini dengan mencari referensi mengenai seluk beluk kemulyaan bulan ramadhan seperti materi kultum kali ini.

Materi Ceramah Kultum Ramadhan


Di tahun 2016, Bulan ramadhan insyaAllah jatuh sekitar tanggal 6 Juni - 5 Juli 2016. dan saat ini memang waktu yang tepat bagi sahabat penceramah untuk mengumpulkan bahan materi untuk ceramah di Bulan Ramadhan 2016. salah satu yang akan saya bagikan yaitu berjudul "Semangat Mengenal Allah di Bulan Ramadhan".  Sahabat, baca juga materi kultumlainnya yang ada di blog ini yang berjudul :

Ceramah Kultum Ramadhan : Kesalahan Orang Berpuasa
Contoh Kultum Ramadhan : Kunci Sukses Ramadhan


Semangat Mengenal Allah di Bulan Ramadhan

Bulan puasa adalah bulan paling tepat untuk memawas diri. Bulan bermuhasabah menghitung kekurangan dan kesalahan diri. Pada dasarnya manusia memiliki potensi diri untuk mengenal Allah yang Maha Ghaib, bahkan berkomunikasi dengan-Nya. Inilah yang terjadi dengan Bapak kita Adam Alaihis Salam sebelum terjerembab dalam godaan syaitan dengan memakan buah huldi yang terlarang. Maka setelah kejadian itu Allah swt menurunkan tirai ghaib, sehingga manusia terasa susah mengenal Allah Yang Maha Ghaib, apalagi berkomunikasi denganNya. Padahal kewajiban pertama manusia menurut aqidah adalah mengenal Allah. Sebagaimana yang diterangkan oleh Ibn Ruslan dalam Zubadnya.

أول واجب على الإنسان معرفة الإله باستيقان

Bahwa kewajiban utama manusia adalah mengenal Allah (tuhannya) dengan penuh keyakinan

Lantas bagaimanakah kita bisa mengenal Allah sedangkan kita masih dalam keadaan termahjub sebagaimana kondisi Nabi Adam setelah makan buah terlarang? Di sinilah hikmah adanya Ramadhan. Ramadhan menjadi salah satu momentum terpenting bagi manusia untuk mengembalikan potensi yang pernah hilang. Menemukan kembali kemampuan manusia berkomunikasi dengan Allah secara langsung. Lalu Bagaimana Ramadhan mampu menjadi momentum pengembalian potensi diri yang pernah hilang dari manusia ini?

Kaum muslimin yang berbahagia ...

Pada hakikatnya puasa merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki sejarah sangat panjang. Sebelum Allah swt mewajibkan puasa kepada umat muslim melalui Rasulullah saw, puasa telah menjadi tradisi umat-umat terdahulu. Meskipun waktu dan tata cara puasa mereka berbeda dengan puasa umat muslim seperti kita yang harus dibatalkan ketika matahari terbenam dan kembali puasa bersama terbitnya fajar berturut-turut selama satu bulan.

Seperti halnya Nabi Daud as, beliau melaksanakan puasa dalam waktu setengah tahun secara bergantian. Artinya satu hari puasa dan satuhari berbuka. Al-Qurthubi, dalam kitab al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, menyebutkan bahwa Allah telah mewajibkan, puasa kepada Yahudi selama 40 hari, kemudian umat nabi Isa selama 50 hari. Mengapa demikian, karena berpuasa merupakan jalur singkat mengenal Allah swt.

Sesungguhnya lemahnya fisik yang timbul ketika berpuasa merupakan, kondisi yang sangat ideal untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena dengan fisik yang lemah, akan surutlah segala macam keinginan dan nafsu manusiawi. Dan ketika manusia telah terbebas dari nafsu, maka ia akan menjadi suci dan mudah berkomunikasi dengan Allah Yang Maha Suci.

Berpuasa yang menjadikan lemahnya fisik, merupakan jalur termudah untuk membunuh dan mengurangi nafsu yang secara otomatis bisa dimanfaatkan untuk mempermudah diri mendekati Allah swt. Karena itu puasa hendaknya benar-benar dijadikan momentum melaparkan diri agar terasa lemas. Janganlah puasa selalu diisi dengan tidur karena tidur akan menghilangkan rasa lapar.

Karena itulah sebagian para sufi membiasakan lapar, karena lapar merupakan bentuk mujahadah memerangi hawa nafsu. Menahan diri dalam keadaan lapar merupakan latihan kecil  berjihad melawan nafsu dan keinginan. Jika seorang hamba telah berhasil melawan nafsunya, maka dia akan mudah berkomunikasi dengan Allah swt.

Kaum muslimin yang berbahagia ...

Selain berfungsi sebagai momentum melaparkan diri, puasa Ramadhan juga merupakan momentum penambahan daya ke-imanan. Sesungguhnya dalam puasa terdapat dua kejadian yang luar biasa yaitu Nuzulul Qur’an dan Laylatul Qadar. Sesungguhnya dua hal ini merupakan peristiwa besar yang sama-sama berhubungan dengan keimanan, yaitu iman kepada yang ghaib. Bukankah Malaikat Jibril yang datang membawa wahyu pertama adalah makhluk mulia yang tercipta dari cahaya dan tidak bisa diindrai oleh mata biasa?, bukankah ayat pertama yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw masih berupa bunyi, bukan al-qur’an yang tercetak secara fisik?

Sementara itu laylatul qadar yang merupakan momen diturunkannya al-qur’an oleh Allah dari Lauhil mahfudh ke baitul izzah benar-benar terjadi tidak di alam nyata dunia ini yang kita tempati. Tetapi di suatu ruang mulia yang hanya Allah lah yang mengetahuinya. Dan hanya Allah pula yang tahu pola penuunan serta waktunya, sehingga manusia hanya bisa memprediksi di  malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Sengguuh keduanya adalah kejadian luar biasa yang ada di bulan ramdhan ini pantaslah mereka yang tahu akan kelebihan dan fadhilahnya terasa tidak ingin ketinggalan dan terlena, karena keduanya merupakan barang paling berharga yang tiada duanya.

Kaum muslimin yang berbahagia ...

Diantara nilai lebih Lailatul Qadar adalah harganya yang lebih baik dari 1000 bulan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadar: 3).

Artinya segala macam bentuk ibadah pada malam laylatul qadar nilainya lebih baik dari amalan di 1000 bulan. Siapakah yang tidak ingin satu amalnya bernilai lebih dari seribu? Pantaslah mereka yang mendapatkan malam qadar pastilah kehidupannya akan penuh dengan keberkahan. Allah Ta’ala berfirman,

 إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad Dukhon: 3).

Keberkahan dibawa trun langsung oleh para malaikat dan malaikat Jibril khususnya

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” (QS. Al Qadar: 4)

Para maliakat itu turun mengitari mereka yang sedang membacakan Al Qur’an, mereka akan mengitari orang-orang yang berada dalam majelis dzikir -yaitu majelis ilmu-. Dan malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena malaikat sangat mengagungkan mereka.

Malam inilah malam penuh keselamatan. Malam yang tiada satupun setan berani bertindak dan menggoda. Sebagaimana diterangkan dengan ayat

سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْر

“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar” (QS. Al Qadr: 5)

Dan yang terpenting adalah malam itu malam pengampunan dosa-dosa. Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901)

Demikianlah semoga Allah memberikan kita petunjuk dan hidayahnya, semoga Allah memberi kita nikmat berkomunikasi langsung dengan-Nya dan memudahkan kepada kita mendapat nikmat malam qadar-Nya amien. 

Materi Ceramah Kultum Ramadhan

Demikianlah kurang lebihnya mengenai materi kultum ramadhan 2016 kali ini. Semoga saja dengan beradanya kita dibulan ramadhan menumbuhkembangkan rasa semangat kita untuk mengenal Allah lebih dan lebih. Tak hanya dibulan ramadhan, melainkan juga nanti dibulan lain selain ramadhan, kita terus bersemangat untuk dekat dengan Allah.

Terimakasih atas kunjungannya, jangan lupa bagikan postingan ini ke sosial media sahabat sekalian. Semoga yang membagikan postingan ini dapat mengambil keberkahan dengan terus Materi Ceramah Kultum Ramadhan : Semangat Mengenal Allah di Bulan Ramadhan. Amiin ya Rabbal Alamin...

Saturday, September 14, 2013

Istilah Manusia di Dalam Al-Quran

Istilah Manusia di Dalam Al-Quran - Manusia merupakan makhluk Allah yang paling tinggi derajatnya dibanding makhluk lain. Itu terbukti, Di dalam kitab suci Alquran sebagai kitab penghulu dari segala kitab,  di dalamnya, Allah SWT menggunakan beberapa istilah yang pada dasarnya ayat Al-Quran tersebut menjelaskan tentang apa saja konsep manusia, bahkan istilah-istilah itu disebutkan lebih dari satu kali. Istilah-istilah manusia dalam Alquran memiliki arti yang berbeda-beda. Berikut 5 istilah 'manusia' dalam Alquran, Sebaaimana dihimpun oleh coretan binder hijau dari berbagai sumber :

Artikel terkait : Penciptaan Manusia dalam Al-Quran

1. Al Basyr, Istilah ini menunjukkan makna bahwa manusia adalah anak keturunan Nabi Adam as dan makhluk fisik yang juga membutuhkan makan serta minum. Kata 'basyar' sendiri disebutkan sebanyak 36 kali dalam bentuk tunggal dan hanya sekali dalam bentuk 'mutsanna' atau 'jama'. Sebagai makhluk yang bersifat fisik, manusia tidak jauh berbeda dengan makhluk biologis lainnya. Kehidupan manusia terikat dengan kaidah prinsip kehidupan biologis seperti berkembang biak.

2. Al Insan, memiliki arti melihat, mengetahui, dan minta izin. Istilah ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan menalar dan berpikir dibanding dengan makhluk lainnya. Manusia dapat mengambil pelajaran dari apa yang dilihatnya, mengetahui yang benar dan yang salah, serta dapat meminta izin ketika menggunakan sesuatu yang bukan miliknya. Manusia dalam istilah ini merupakan makhluk yang dapat dididik, memiliki potensi yang dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. 

3. Al Nas, menunjukkan fungsi manusia sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia harus menjaga hubungan baik dengan manusia lainnya. Dari awal terciptanya, seorang manusia berawal dari sepasang laki-laki dan wanita. Ini menunjukkan bahwa manusia harus hidup bersaudara dan saling membantu.

4. Bani Adam. Manusia dalam istilah ini memiliki arti keturunan Adam. Istilah ini digunakan untuk menyebut manusia bila dilihat dari asal keturunannya. Istilah 'Bani Adam' disebutkan sebanyak 7 kali dalam 7 ayat Alquran. Penggunaan kata 'Bani Adam' menunjuk pada arti manusia secara umum. Terdapat tiga aspek yang perlu dikaji bila melihat manusia dengan istilah ini. Pertama, berbudaya sesuai dengan ketentuan Allah, misalnya dengan berpakaian yang menutup aurat. Kedua, saling mengingatkan dengan manusia lain agar tidak terjerumus dalam perbuatan dosa. Ketiga, memanfaatkan semua yang ada di alam untuk beribadah.

5. Al Ins, meiliki arti tidak liar atau tidak biadab. Istilah Al Ins berkebalikan dengan istilah al jins atau jin yang bersifat metafisik dan liar. Jin hidup bebas di alam yang tidak dapat dirasakan dengan panca indra. Berbeda dengan manusia yang disebut menggunakan istilah al ins. manusia adalah makhluk yang tidak liar, artinya jelas dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kata Al Ins disebutkan sebanyak 18 kali dalam Alquran, masing-masing dalam 17 ayat dan 9 surat.

Sunday, September 1, 2013

Mari Hidupkan yang Hidup Menjadi Lebih Berarti

Hidup dan Kehidupan!, ya inilah yang sedang kita nikmati, ini yang sedang dijalani, selagi masih terasa hembusan dan tarikan nafas. Inilah sebuah perjalanan yang sesungguhnya kita tidak tahu ahir perjalanan ini akan berujung. Telah banyak orang yang mencoba untuk mengartikan apa itu hidup. Hidup adalah sebuah perjuangan menghadapi masalah yang ada. Hidup adalah sebuah perjalanan panjang yang mesti dilalui. Hidup adalah saat dimana kita harus mempersiapkan perbekalan. Dan masiiiiiiiiiiih banyak lainnya artian dari orang mencoba mengartikan hidup dan kehidupan, Namun, layaknya sebuah defenisi muncul yang berasal dari fikiran manusia justru membuat pengartian hidup dan kehidupan semakin kabur. Jelaslah, bahwa makna yang terkandung dalan hidup dan kehidupan tersebut sangat berkolerasi dengan subyektifitas manusia yang selalu berada dari setiap individu satu dengan yan lain.

Mari Hidupkan yang Hidup Menjadi Lebih Berarti

Ketika hidup berisi kebahagiaan maka hasrat untuk hidup lebih lama yang muncul, tetapi disaat cobaan menjadi sahabat kita maka kitalah orang yang paling menderita dan seakan ingin hidup ini segera berakhir. Begitulah kita, nurani manusia. Mungkin hati kita lebih sering berprasangka buruk dalam menyikapi segala dinamika hidup ini, dibandingkan berbaik sangka. Ketika dibebani amanah, yang ada adalah prasangka kita kepada orang yang tidak memiliki beban. Ketika di coba, kita berandai-andai menjadi orang yang tidak mendapat cobaan. Ketika sakit kita dengan iri pada yang sehat. Bisa dibayangkan apabila hati kita dipenuhi dengan noda-noda prasangka, bahkan sang hati tak mampu menanggung beban tersebut tentu bukan kita orang yang dipenuhi noda-noda hati. Tetapi cobalah melihat sekeliling kita banyak orang yang bingung menjalani hidup ini dan memilih jalan pintas sebagai jalan keluar.

Memilih kebahagiaan menghindari kesedihan, maka ketidak seimbangan yang terjadi adalah suasana yang kita wujudkan. Bukan berarti itulah satu-satunya pilihan hidup yang kita miliki. Itulah makna ujian mengeluarkan sifat dasar kita sebagai insan manusia. Tahan terhadap ujian! Apapun yang kita hadapi pilihan kita adalah menghadapi dan kita terjebak dalam ketidaktahuan dalam menyikapi permasalahan karena selamanya manusia tidak akan terhindar dari permasalahan. 

Menghadapi permasalahan dengan marah hanya untuk menyelesaikan permasalahan, tetapi yang utama adalah bagaimana menyikapi permasalahan itu sendiri. Jawabannya adalah kesabaran, terdengar klise memang. Tetapi kesabaranlah yang membawa manusia menjadi manusia. Karena makna kesabaran disini tidak melihat dari sisi bahwa manusia harus pasif, atau berdiam diri dari setiap episode kehidupan yang dihadapi. Kesabaran menuntun kita untuk selalu tabah menerima semua ketentuan Yang Maha Memberikan Kehidupan. Tidak menyesali diri, tetapi segala permasalahan hidup yang akhirnya membawa kita ke dalam rengkuhan Ilahi, mendekat, menggantungkan segala apa yang terjadi hanya kepadaNya, dan berusaha untuk bangkit, yakin bahwa hidup ini dapat berubah.

Setidaknya itulah yang akan berkamuflase menjadi sebuah energi besar sehingga kita berani menatap hidup ini. Karena memang hidup ini sangat indah, begitu banyak karya seni yang bisa kita wujudkan, dan kenapa tidak kita menikmati hidup ini dengan senikmat-nikmatnya. Itulah seharusnya defenisi hidup dan kehidupan yang kita buat. Kamu setuju??? Bahwa hidup dan kehidupan adalah refleksi kasih sayang Allah kepada hambaNya. Alangkah ruginya kalau memang waktu yang sesaat ini kita menghabiskan waktu hanya untuk menyesali hidup. Bergerak, bangkit dan hidupkan hidup ini dengan berbuat sesuatu yang terbaik, pilihan ini yang seharusnya kita pilih.